Guys aku punya kucing betina nih... aku kenalin ya.. namanya Cempluk. ya namanya agak "ndeso" itu deh. tapi aku tetep aja gak tw kenapa dikasi nama Cempluk. dia adalah salah satu ras kucing Anggora. bulunya gak terlalu panjang. tapi ya cukup lebat lah. warnanya seperti cappucino kalo ruangan terlihat sedikit gelap. tapi kalo temen2 lihat kucing aku di bawah panas matahari... Ya ampun warnanya Gold ke perak2an gitu deh... nih aku kenalin sama kucing aku... Dan Ini lah fotonya........
My Cat Cempluk
Guys aku punya kucing betina nih... aku kenalin ya.. namanya Cempluk. ya namanya agak "ndeso" itu deh. tapi aku tetep aja gak tw kenapa dikasi nama Cempluk. dia adalah salah satu ras kucing Anggora. bulunya gak terlalu panjang. tapi ya cukup lebat lah. warnanya seperti cappucino kalo ruangan terlihat sedikit gelap. tapi kalo temen2 lihat kucing aku di bawah panas matahari... Ya ampun warnanya Gold ke perak2an gitu deh... nih aku kenalin sama kucing aku... Dan Ini lah fotonya........
Two Adventurers and A Bear
Perjalanan Hari
Ketika ku buka mataku
Kuhadirkan senyuman
Penuh Harapan dan doa
Demi hari ini
Detik demi detik
Menit demi menit
Bahkan jam demi jam
Kulalui semua itu dengan peristiwa
Ketika senja menutup siang
Tanda bergantinya malam
Malamku pun kututup
Dengan memejamkan mataku
Sambil Bermimpi
Dan menunggu hari esok tiba .........................
Pulau yang Mungkin Akan Tenggelam
Antarktika (dari bahasa Yunani ἀνταρκτικός "antarktikos", lawan kata arktik atau anti-arktik) merupakan benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi. Tempat terdingin di muka bumi ini sebagian besar tertutup es sepanjang tahun. Meskipun legenda dan spekulasi tentang sebuah Terra Australis ("Tanah Selatan") sudah ada sejak zaman kuno, penemuan benua yang pertama kali diterima umum terjadi pada 1820 dan pendaratan yang pertama tercatat tahun 1821. Namun demikian, peta yang dibuat Laksamana Piri Reis tahun 1513 memuat sebuah benua selatan yang diduga sebagai pantai Antarktika. (Lihat juga Sejarah Antarktika).
Dengan luas 13.200.000 km², Antarktika adalah benua terluas kelima setelah Eurasia, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Selatan namun populasinya terkecil jauh di bawah yang lain (umumnya dihuni oleh para peneliti dan ilmuwan untuk batas waktu tertentu saja). Benua ini juga memiliki ketinggian tanah rata-rata tertinggi, kelembaban rata-rata terendah, dan suhu rata-rata terendah di antara semua benua di bumi.
Antarktika merupakan zona bebas, walaupun sampai saat ini masih ada beberapa negara di dunia yang mengajukan klaim kepemilikan wilayah di benua Antarktika tersebut.
Meski keberadaan benua Antarktika sudah diduga sejak lama, namun benua ini baru ditemukan pada tahun 1820. Siapa yang menemukannya pertama kali tidaklah jelas sebab ada tiga orang dari tiga negara yang mengklaimnya yaitu: Fabian von Bellingshausen dari Rusia, Edward Bransfield dari Britania Raya dan Nathaniel Palmer dari Amerika Serikat.
Pada tahun 1911 Roald Amundsen dari Norwegia adalah orang pertama yang mencapai kutub selatan. Tidak lama kemudian ia disusul oleh Robert Falcon Scott dari Britania Raya.
Antarktika adalah tempat terdingin di Bumi dengan suhu mencapai -85 dan -90 derajat Celsius di musim dingin dan 30 derajat lebih tinggi di musim panas. Bagian tengahnya dingin dan kering serta hanya mengalami sedikit curah hujan. Turunnya salju juga terjadi di bagian pesisir, dengan catatan tertinggi 48 inchi dalam 48 jam. Hampir seluruh benua ini diselimuti es setebal rata-rata 2,5 kilometer.
Tergantung pada lintangnya serta waktu malam atau siang yang konstan, membuat iklim yang biasa dialami manusia tidak terdapat di benua ini.
Hewan yang umum dijumpai di wilayah ini adalah pinguin. Pinguin adalah jenis burung yang tidak bisa terbang, namun pinguin merupakan penyelam yang ulung. Hewan lainnya adalah singa laut, anjing laut dan ikan paus.
Diperkirakan terdapat sekitar 1.000 orang tinggal di Antarktika dalam satu waktu namun bergantung juga terhadap musim. Orang yang tinggal di Antarktika biasanya menggunakan zona waktu negara asalnya. Walau tidak ada pemukim tetap, 29 negara yang menandatangani Traktat Antarktika memiliki stasiun riset yang umumnya selalu digunakan sepanjang tahun.
Banyak yang menganggap bahwa manusia pertama yang dilahirkan di Antarktika adalah Solveig Gunbjörg Jacobsen, tepatnya di Grytviken, pulau Georgia Selatan pada tanggal 8 Oktober 1913. Namun dikarenakan pulau ini tidak dianggap sebagai bagian dari benua Antarktika, maka Emilio Marcos Palma (lahir 7 Januari, 1978) sampai sekarang adalah orang pertama yang lahir di benua Antarktika. Ia adalah seorang warganegara Argentina. Lalu pada tahun 1986 dan 1987 di stasiun Chili lahir pula seorang anak lelaki dan perempuan.
Beberapa negara, terutama yang letaknya tidak jauh dari Antarktika pada awal abad ke-20 mengklaim beberapa wilayah di Antarktika. Pengklaiman ini secara praktis tidak ada artinya, namun seringkali digambarkan oleh para ahli kartografi dalam membuat peta dan atlas.
Kebanyakannya yang mengklaim wilayah-wilayah ini memiliki stasiun observasi dan penelitian di dalam wilayah mereka. Perjanjian Antarktika tidak mengakui klaim-klaim ini dan sebagian besar negara di dunia tidak mengakui wilayah-wilayah ini. Beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Rusia tidak atau belum mengklaim wilayah tetapi menyatakan bisa mengklaim wilayah pada masa depan.
- Argentina: 25° B sampai 74° B; sebagian meliputi wilayah Chili dan Britania. Antártida Argentina diklaim pada tahun 1943 sebagai bagian wilayah provinsi "Terra Fuega, Antarctica dan kepulauan Atlantika Selatan.
- Australia: 160° T sampai 142° T dan 136° T sampai 45° T; diklaim pada 1933 sebagai Teritorium Antarktika Australia.
- Britania Raya: 20° B sampai 80° B; meliputi wilayah Argentina dan Chili. Diklaim pada tahun 1908, lihat pula Teritori Antarktika Britania.
- Chili: 53° B sampai 90° B; juga meliputi wilayah Argentina dan Britania; mulai tahun 1940.
- Perancis: 142° T sampai 136° T; tanah Adelie diklaim pada 1924.
- Selandia Baru: 150° B sampai 160° T; Dependensi Ross diklaim pada 1923.
- Norwegia: 45° T sampai 20° T; diklaim pada 1938 sebagai Tanah Dronning Maudland, termasuk pulau Peter I.
Klaim masa lalu
- Afrika Selatan: antara 1963 sampai 1994.
- Brasilia: 28° B sampai 53° B; meliputi wilayah Argentina, Britania dan Chili. Secara informal diklaim pada tahun 1986.
- Jerman: 20° T sampai 10° B; sekarang diambil alih Norwegia. Antara tahun 1939 sampai 1945 dikenal sebagai Neuschwabenland.
MENYEMAI BIBIT UNGGUL DI KELAS AKSELERASI
Fantastis! Mungkin masih ingat tentang duo Larry Page dan Sergey Brin, si penemu mesin pencari Google, lalu Jerry Yang, penemu Yahoo, dan si Mark “Facebook” Zuckerberg, yang lebih suka bercelana pendek saat berada di kantor situs jejaring sosial, yang kini digilai jutaan pengguna Internet di dunia itu.
Label bandel, nyentrik, dan nyeleneh memang sering melekat pada tokoh yang kini mencapai puncak kesuksesan di berbagai bidang. Tidak dapat dimungkiri, walau tak harus dibarengi dengan prestasi akademis yang gemilang, sosok nyeleneh seperti mereka tetaplah sosok Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa (CIBI).
Di Indonesia, anak-anak usia sekolah yang masuk kategori CIBI berusaha diwadahi dalam sebuah kelas akselerasi (percepatan) yang jumlahnya hanya sekitar 311 sekolah dari 126 ribu sekolah umum yang ada dan 12 sekolah madrasah di seluruh Indonesia.
Akselerasi merupakan amanah dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 5 Ayat 4 tentang Anak Cerdas Berbakat Istimewa. Dalam program akselerasi, masa tempuh sekolah dapat lebih cepat. SMP atau SMA yang biasanya tiga tahun dapat ditempuh dengan dua tahun saja.
Begitu juga dengan sekolah dasar yang enam tahun dapat ditempuh dalam lima tahun saja. Menurut Amril Muhammad, Sekretaris Jenderal Asosiasi CIBI Nasional, yang mendasari dibukanya kelas akselerasi adalah anak CIBI memiliki karakteristik yang khas. Di antaranya kemampuan belajarnya bisa mencapai 4-5 kali lebih cepat dari anak biasa.
“Ketika kecepatan mereka tidak diakomodasi, maka akan berpotensi mengganggu yang lain, bahkan anak CIBI bisa menjadi nakal,” kata dosen jurusan Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini. Istilah CIBI sering digunakan untuk mengelompokkan anak yang berbakat khusus (gifted and talented).
Mereka biasanya memiliki IQ kategori very superior atau minimal memiliki skor IQ 130 skala Wechsler. “Atau bisa juga anak-anak pintar yang juga berprestasi di kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional,” ungkapnya. Lulusan Program Pascasarjana UNJ ini mengakui tidak mudah mendeteksi keberadaan anak-anak berbakat istimewa itu di sekitar kita.
Bisa jadi anak yang kita cap paling bandel di sekolah justru merupakan anak yang berbakat istimewa tersebut. Saking sulitnya, hanya sekitar 9.951 orang yang bisa dideteksi dari perkiraan sekitar 1,3 juta anak yang masuk kategori CIBI di Indonesia.
“Masalahnya, anak-anak ini kurang dikenali dengan mata telanjang, kecuali jika sudah dites oleh psikolog,” ujar pria kelahiran Pariaman, Sumatra Barat ini.
Kurang Kokoh
Program akselerasi sudah ada sejak 1974, kemudian berlanjut pada 1982, 1994, 1999.
Itu pun banyak ditentang, dan sistem yang diterapkan kurang kokoh. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh sekolah yang akan membuka kelas akselerasi. Di antaranya, paling tidak memiliki jumlah murid yang memenuhi persyaratan CIBI minimal 20 orang satu kelas.
Jika tidak sampai jumlah tersebut, dapat juga dilakukan pendalaman khusus, tapi hanya untuk beberapa mata pelajaran pilihan, seperti matematika, fisika, atau bahasa Indonesia. “Kalau hanya lima orang, misalnya, tetap bisa, tapi tidak dalam bentuk kelas, tapi makin banyak murid semakin ringan biayanya,” terang Amril Muhammad.
Pada awal kelas akselerasi ini berkembang di sekolahsekolah, banyak terjadi penyimpangan. Banyak sekolah yang menukar kursi akselerasi semata-mata demi rupiah. “Agar kuota kursi 20 itu terpenuhi, jadi yang bisa bayar mahal bisa saja masuk kelas percepatan,” ungkapnya.
Namun, hal tersebut lamakelamaan berkurang, sebab dalam perjalanannya, anakanak karbitan tersebut terbukti tidak kuat mengikuti kegiatan di kelas akselerasi. “Banyak yang mengaku pusing dan stres, akhirnya kembali lagi ke kelas reguler,” paparnya.
Berbeda dengan anak di kelas reguler, anak CIBI hanya perlu diberi pengarahan sedikit. Selebihnya, mereka bisa bergerak dengan sangat responsif dan mengembangkan ilmu itu sendiri. “Makanya guru harus mengenali, menggali, karena tidak, terus menunjukkan kalau belum menemukan partner,” terangnya.
Kelas akselerasi juga perlu mengembangkan pola mengajar yang lebih mengedepankan riset serta pengajaran berbasis problem base dan diskusi. “Guru mengajar, murid eksplorasi,” cetusnya. Untuk itu, sekolah penyelenggara kelas akselerasi harus melatih guru-guru yang akan menangani kelas percepatan tersebut.
“Guru harus tahu bagaimana materi dikembangkan dari studi kasus,” terangnya. Selain itu, minimal sekolah tersebut harus menyandang status Standar Nasional. Sebab untuk mengakomodasi anak-anak tersebut, juga harus didukung dengan fasilitas pendidikan yang memadai.
Bukan Prioritas
Namun, menurut Amril, ada asumsi yang kurang pas di tengah masyarakat. Banyak sekolah dan orang tua mendefinisikan fasilitas dengan halhal yang berorientasi fisik, fasilitas AC dan sebagainya. Hal ini yang mengakibatkan sekolah harus memungut uang lebih banyak dari orang tua murid.
Sebab menurut pengakuan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Nasional, Suyanto, pemerintah tidak memiliki anggaran khusus untuk program kelas akselerasi ini. “Diselipkan pada anggaran di Pendidikan Luar Biasa (PSB),” terangnya.
Menurut Suyanto, kelas akselerasi bukan merupakan sasaran prioritas pendidikan nasional. Menurutnya, masih ada program seperti Wajib Belajar 9 tahun dan Pendidikan Anak Usia Dini yang masih harus menjadi perhatian utama pemerintah. Maka, selain dari bantuan pemerintah yang minim tersebut, sekolah diperkenankan mencari dana dari orang tua dalam jumlah yang wajar.
Pernyataan ini tentu bertolak belakang dengan kondisi nyata yang terjadi saat ini. Pemerintah justru menggelontorkan dana miliaran atau bahkan triliunan rupiah untuk dana block grant Rintisan Sekolah Berskala Internasional (RSBI).
cit/L-1
Justin Bieber Profile
Usia Bieber menginjak 12 tahun saat ia mengikuti lomba menyanyi di Stratford, dan mendapat juara kedua. Ia belajar memainkan instrumen musik seperti piano, drum, gitar, dan terompet secara otodidak. Pada akhir 2007 Justin dan ibunya mulai memposting video ke YouTube sehingga keluarga dan teman-temannya dapat menyaksikan ia bernyanyi. Lagu yang ia nyanyikanpun merupakan lagu-lagu yang aslinya dinyanyikan oleh penyanyi kenamaan seperti Usher, Stevie Wonder, Ne-Yo, Justin Timberlake, dan Michael Jackson.
Scooter Braun, seorang marketing executive pada So So Def, menemukan videonya dan menerbangkan Bieber ke Atlanta, Georgia dimana ia bertemu dengan penyanyi R&B dan penulis lagu Usher. Seminggu kemudian Justin Bieber mendapatkan kesempatan untuk bernyanyi di depan Usher, dan Usher menyukainya. Kemudian ia memberikan kesembatan Bieber mengikuti sebuah audisi di perusahaan rekaman Island Records yang kemudian ditandatanganinya pada Oktober 2008. Justin Timberlake dilaporkan juga mengincar Bieber untuk masuk ke dalam management artistnya, namun sayang Bieber sudah terkontrak dengan Usher.







